SERANGGA KAFKA DALAM RUPA:

Sebuah pengantar untuk The Metamorphosis karya Septian Fajrianto.

Oleh: Anandhika Primawan



Berubah. Di satu pagi, dalam bayang mimpi buruk, antara kantuk dan jaga, Gregor Samsa mendapati wujudnya berubah: dari sosok-manusia-gila-kerja-andalan-keluarga menjadi serangga raksasa menjijikan. Tidak jelas jenis serangga macam apa yang hendak dihadirkan oleh Kafka. Alih-alih pasti, dia justru menulisnya secara implisit: ungeheuer ungeziefe, yang berarti hama besar mengerikan—pilihan kata yang nantinya terbuka untuk beragam tafsir, bahkan perdebatan.


Tidak selalu kita dihadapkan dengan pasase pembuka yang menggugah dari sebuah cerita. Seperti Pedro Paramo-nya Rulfo, atau L’Etranger-nya Camus, lewat Metamorfosis, perubahan Samsa jadi serangga adalah premis sekaligus klimaks. Kafka seolah sedang menyeret pembaca untuk menjelajah ketidakterdugaan: Kenapa Samsa berubah jadi serangga? Apa pasal keluarganya mengusirnya? Kejanggalan, atau kegilaan, apa lagi yang menunggu dari tiap halaman di bab berikutnya? Dengan alur sederhana, dan menempatkan kejutan di awal cerita, Samsa yang nelangsa sekaligus menjijikan, berhasil menagih kita untuk terus mendaras. 


Selesai dalam rentang waktu 25 hari, novelet yang semula dimaksudkan sebagai cerita pendek ini, ditulis bukan tanpa rintang. Di tengah proses pengerjaan novel berjudul Amerika, Kafka didera kecewa. Dia merasa inferior sekaligus gagal berkarya. Dari sini lah gagasan Metamorfosis sebenarnya lahir, sebelum berkembang jadi satu-satunya karya Kafka yang paling sering dibaca: awalnya ia tak lebih daripada karya-selingan; peranjakan sejenak dari rasa putus asa. Namun, lewat korespondensi antara Kafka dengan Felicie Bauer, gadis pujaannya, kita jadi tahu: serupa Amerika, pun Metamorfosis bukan karya yang mudah.


Di satu malam (Kafka selalu menulis cerita di malam hari), Kafka yang murung menyurati Felice, “Sayangku, sekarang pukul setengah dua malam, sejauh ini ceritaku belum selesai…. Apa yang harus kulakukan? Cerita tulis tangan ini sulit dibaca. Dengan senang hati, jika aku bisa membacakan sendiri kepadamu. Namun, aku harus memegangi tanganmu karena cerita yang kuberi judul Metamorfosis ini sedikit menakutkan.”. 


Metamorfosis ditutup dengan kematian Gregor Samsa. Sedrastis perubahannya menjadi seekor serangga, Kafka menggambarkan ajal yang menjelang sebagai sebuah prosesi muram (“Ia merenung dengan hampa sekaligus damai sampai jam di menara berdentang pukul tiga pagi”), sarat ironi (“Hal terakhir yang ia lihat adalah langit yang perlahan menjadi terang di luar jendela”), dan tak terduga (“Kemudian, di luar kemauannya, kepalanya terkulai, dan napas terakhirnya berembus lemah melalui lubang hidungnya”). 


Jika The Metamorphosis diniatkan pengarangnya sebagai kritik atau perumpamaan atas kenyataan hidupnya sehari-hari (meminggirkan latar dan kondisi-psikologis yang melingkupinya), lantas—dengan segala kejanggalannya—imaji serangga macam apa yang ingin ia tawarkan, mengingat betapa kita selaku pembaca merasa terpapah untuk bisa masuk ke (atau berupaya menerjemahkan) dunia (dan secara spesifik wadag karakter) khayali Kafka yang memesona namun gila ini? Di sini lah peran ilustrasi hadir, dan, lazimnya ilustrasi, sebagai bentuk ekspresi-rupa dia tidak menawarkan relasi antara narasi yang dibangun oleh teks dengan rupa secara sama persis. Ilustrasi sering kali berani melenceng dari tata dan kaidah. Ia tidak melulu harus ajeg, boleh arbriter dan luwes. 



Sepengamatan saya, paling tidak ada tiga ilustrasi paling mewakili, di mana tidak setiap ilustrasi yang dihasilkan adalah cerminan ideal dari apa yang mungkin dilamunkan oleh pembaca. Otto Starke memulai segalanya. Dia bertanggung jawab atas ilustrasi sampul edisi awal The Metamorphosis yang terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman (Die Verwandlung) di penghujung 1915. Berbeda dengan ilustrasi generasi setelahnya, illustrator asal Jerman ini berkarya sesuai titah Kafka: tidak boleh ada objek serangga. Dia menggantinya dengan sosok ayah Gregor Samsa. Starke mengambil sudut pandang orang ketiga: melihat pilu dan ngeri melalui apa yang dirasakan langsung oleh tokoh pendukung. Strategi ini tampak berjarak namun intim.




Disusul kemudian oleh novel-grafis karya Peter Kuper. Dengan gaya karikatural dan teknik chiaroscuro yang menambah efek dramatis, Kuper berhasil mengabadikan was-was dan ekspresi terkejut yang dialami oleh Gregor Samsa ketika anggota keluarga memergokinya berubah menjadi seekor kecoa (Preferensi kecoa ini sangat mungkin mengacu kepada tafsiran Vladimir Nabokov. Dalam Lectures on Literature, pengarang novel Lolita-cum-kritikus-sastra tersebut mendedahkan pemaparan komprehensif bahwa hanya wujud kecoa yang paling mendekati gagasan serangga Kafka).




Terakhir, lukisan ekspresionisme karya Max Beckmann, Family Picture, yang diselesaikan tahun 1920. Tidak jelas apakah karya yang dilatari pengalaman pahit si empu lukisan ketika berhadapan dengan Perang Dunia I ini adalah komisi dari pihak penerbit Bantam Books untuk dijadikan ilustrasi sampul buku (sebagai informasi, versi Bantam Books ini memuat banyak anotasi sehingga cukup layak dijadikan rujukan) atau sekadar karya sempalan yang "diadopsi" dan disematkan begitu saja. Tidak seperti dua karya sebelumnya, Max justru menampilkan keluarga serta kerabat Samsa yang berkumpul pasca tragedi. Dengan dominasi warna redup yang membentuk nuansa hangat, lumrahnya suasana acara kumpul keluarga kelas menengah di Eropa saat itu, kita seolah turut hadir di situ: menyimak desas-desus yang berkelindan dengan perkabungan; sikap tidak acuh berseling tawa; atau sekadar guyon dan denting alat makan di sela obrolan. Seluruh figur dilukis dalam format asimetris dengan komposisi acak, seakan semuanya tampak sibuk memetakan rencana selanjutnya; atau, alih-alih larut dalam nestapa, masing-masing terpaut dengan pikiran yang serba rahasia. Penuh muslihat.


Berbeda dengan tiga karya yang saya sebutkan di atas, karya Septian Fajrianto tidak berangkat secara langsung dari buku. Berawal sebagai karya komisi di tahun 2016 dari unit black metal asal Hamburg, Jerman, Samsas Traum; untuk memahami brief secara utuh, Septian melakukan riset cukup mendalam. Dia mengkaji karya Kafka hampir menyeluruh: bukan sekadar The Metamorphosis yang dia lahap, melainkan karya Kafka lainnya, The Trial, termasuk beberapa cerita pendek—di luar upaya dia untuk memelajari struktur dan anatomi insekta. Dikerjakan menggunakan tinta di atas kertas, objek yang dihadirkan oleh Septian membaurkan yang absurd dengan yang jijik melalui goresan tegas dan rapat, dengan penempatan gelap dan terang yang cermat, tanpa meninggalkan kesan kelam yang menjadi ciri khasnya, seperti bisa kita amati dalam karya-karya dia selama ini. 




Perlu di garis bawahi: seperti pernah dialami Kafka, pengerjaan ilustrasi karya Septian ini bukan tanpa kesulitan. Melalui obrolan singkat, dia memaparkan kepada saya bahwa selama menggali informasi tentang serangga, dia berkali harus menahan mual, bahkan muntah. Hal ini erat kaitannya dengan perasaan jijiknya terhadap hal-hal jorok dan grotesk: belatung, kecoa, unggunan sampah basah, dan segala yang menguarkan bacin. Paradoks yang tidak saya duga; berkebalikan dengan persona karya-karya Septian yang justru lekat dengan karakter gelap. Jika akhirnya Septian keukeuh menggarap ilustrasi ini, bukan tanpa alasan. Selaku suami dan ayah, dari apa yang dirangkumnya setelah membaca The Metamorphosis, kegelisahan terhadap apa yang selama ini ia jalani menjadi landasan visual yang memantik dia untuk lanjut, hingga berproses dan bertumbuh seperti sekarang. Mencipta menjawab keresahan Septian; walau jalan yang ditempuh seringnya jauh dari riuh tepuk tangan.


Seabad lebih pasca terbit, The Metamorphosis menjadi karya Kafka paling terkenal sekaligus menempatkannya sebagai satu dari sekian pengarang modern yang, berkat kisah hidup juga cerita-cerita karangannya, menginspirasi kerja-kerja kreatif di banyak bidang, sehingga tetap memikat untuk selalu dikaji. Dalam wawancaranya dengan The Paris Review, misalnya, Gabriel Garcia Marquez, menuturkan bagaimana gaya Kafka dalam menulis telah meretas jalan keluar bagi kebuntuannya dalam mengarang cerita. Tanpa The Metamorphosis, karya monumental Marquez, One Hundred Years of Solitude, atau bahkan realisme-magis yang tumbuh-subur di Amerika Selatan, tidak akan lahir. The Metamorphosis memberi tempat untuk hal-hal yang dianggap mustahil dan ganjil. Daya kejutnya menjungkirbalikkan sudut pandang tiap pembaca; menegur kita untuk mempertanyakan ulang segala hal yang dianggap pungkas dan benar. 


Dalam konteks kini, membaca dan mengapresiasi The Metamorphosis bisa menjadi penting. Di tengah kondisi yang melulu menjadikan capaian "kesuksesan" serta "laku suka membanding-bandingkan" sebagai tolok ukur untuk menilai posisi seseorang dalam hubungan antarmanusia, karya Kafka menyajikan semacam pelipur sekaligus tamparan. Kafka tidak pernah berusaha untuk menjadi indah. Tiap paradoks dan ironi dia tulis dengan nada dingin. Seperti kita, pun Kafka menjadi saksi era yang serba gegas, di mana nilai esensial hidup dihitung hanya berdasarkan akumulasi laba juga efisiensi (seberapa banyak dan seberapa cepat). 


Beberapa hasil studi sastra berasumsi bahwa Samsa adalah proyeksi diri dan pengalaman Kafka yang tak pernah akur dengan ayahnya. Seperti tertulis di beberapa suratnya yang kemudian dibukukan dalam Letter to His Father, pun The Metamorphosis sedikit-banyak memotret hubungan ayah-anak yang timpang. Sepanjang hidupnya, Kafka menanggung luka dan trauma yang tak lagi bisa terjembatani. Orang tuanya menampik setiap keinginan yang tak mengandung untung. Bedanya, hidup tokoh Samsa berakhir tragis. Sebagai seorang anak, dia dihantui oleh pengakuan. Perubahan biologis menjadikannya invalid. Dia dibuang karena dianggap tidak lagi memiliki kontribusi untuk perputaran roda ekonomi keluarga. 


Saya membayangkan adegan Gregor Samsa menyambut mati: sendirian, tenang dan berserah. Subuh hampir tiba, dunia di sekitar senyap sempurna. Di meja yang berada di sudut kamar, di sebelah ranjang yang menopang tubuh rapuhnya, barang dagangan—di antara setumpuk nota dan buku-saku berisikan jadwal lawatan—terserak, tak lagi laku. Persis sebelum semburat mentari perlahan menginterupsi remang lewat kisi jendela, Samsa masih sempat memandang ke arah lukisan di dinding kamar—menampilkan sesosok perempuan yang duduk tegak mengenakan topi bulu dan kulit ular boa. Ajal tinggal sejengkal. Aneh, tapi, setelah sekian lama, di sepersekian menit itu, dia kembali merasa akrab dengan diri yang lama terabaikan—oleh keluarga, oleh jerat kewajiban, dan hal-hal temeh yang selama ini membebani. Perasaan entah-apa-namanya yang dirindukan, selain kematian itu sendiri. Beberapa menyebutnya penyesalan, saya lebih suka menyebutnya sebagai perjalanan menuju yang sempat hilang dari diri: kehendak. Walau sejenak dan tertatih. Lewat ilustrasinya, dengan mengambil sudut high-angle, Septian berhasil mengabadikan momen terakhir serangga malang tersebut. 


Bandung, April 2026.